Percintaan Pertama dengan Gili Trawangan

23.31 Nurul Hayat Acil 0 Comments


Akhir tahun 2012 kami berempat berkesampatan pergi ke Nusa Tenggara Barat, dalam rangka acara berkesian/pameran lukisan. Selama proses berkesenian kami ditampung di rumah seorang teman yang baik hati nan budiman, Paox Iben dialah penggagas dari acara ini.

Ke Mataram rasanaya belum syahdu kalo ga mampir ke Gili Trawangan dan dua sodaranya yaitu Gili Meno dan Gili Air. Singkat cerita berangkatlah kami kesana, waktu itu bertepatan dengan mau tahun baru 2013. Dari Mataram kami dianter oleh teman sampai ke Senggigi, dari situ menyebrang dengan menggunkan angkutan berupa perahu seharga 10.000 per orang, ada juga sih yang nawarin dengan  speedboot, tentu saja kami sama sekali tidak tertarik, disamping tidak dapat menikmati perjalanan secara tradisional, yang jelas harganya tidak terjangkau! hahaha.

Sampailah kami di pulau yang saya impi-impikan sejak 6 tahun lalu, dengan suka cita berbumbu haru kami menginjakan kaki ke Gili Trawangan untuk pertama kalinya. Sejenak saya berhenti lalu melepaskan alas kaki untuk merasakan tanah pantai Gili Trawangan dan bersyukur bahwa alam semesta telah mengijinkan kami untuk menikmati segala bentuk keindahannya.

Barang-barang kami titipkan ke tempat temen punya kawan, lagi-lagi temen yang baik hati dan suka menolong, itulah gunanya teman, hehe. tanpa membuang waktu kita langsung keliling, kebetulan akhir bulan Desember curah hujan di sini lumayan sering jadi jalan agak becek, tapi terobati dengan tidak adanya kendaraan bermotor, itu yang bikin gak berisik jadi asik, kita bisa menyewa sepeda, atau andong yang berjejer di sepanjang jalan berdampingan dengan kios-kios penjual berbagai macam souvenir, pakaian dan kain pantai, sementara kafe-kafe berebut memberi senyuman kepada para pengunjung. Sayapun sempet menyewa sepeda untuk mengelilingi pulaunya, bagian barat pulau jalannanya masih berpasir dan sepi, jadi agak lumayan harus akselerasi ototnya, tapi tetep tergantikan dengan suasananya yang ruar biasa.

Di hari pertama kami bisa menikmati keramahan pantai dengan leluasa, mandi di pantai yang sebenarnya saya ga bisa berenang, hari kedua kelayapan bareng teman-teman mencoba membelah pulau dengan masuk ke pedalaman. Sebenarnya begitu sampai, dikepala ada pertanyaan bagaimana orang-orang ini buang sampahnya sedangkan pulaunya sekecil ini? ternyata pas keliling nemu juga tuh tempat pembuangan sampah, tapi kalau di sepanjang pantai sih lumayan cukup bersih, kecuali sampah-sampah bawaan ombak. Kalau kita masuk ke dalam lagi, banyak juga penginapan murah-murah untuk yang kantongnya ga berlebih bisa memilih daerah sini,

Hari ketiga tepat H-1 tahun baru, pengunjung semakin membludak banyak berdatangan sehingga pantai begitu rame dan riuh, akhirnya kami putuskan untuk menyebrang ke Gili Meno, maklum kami adalah kaum penikmat alam dalam suasana sunyi dan sepi, hanya deburan ombak yang menemani (kayak lagu jadinya).  Kebetulan salah satu dari kami punya kenalan di Gili Meno (lagi-lagi temen hehehe) maklum kami juga termasuk Para Pencari Gratisan

Sore baru bisa berangkat karena angkutan dari Gili Trawangan ke Gili Meno tidak sebanyak dari Trawanagan ke Senggigi.

0 komentar: