Di Bungin, Pulau Terpadat di Dunia, ada Tarian Penyembuh

20.57 Nurul Hayat 0 Comments


Setelah merasakan percintaan pertama dengan Gili Trawangan, dan memeluk kesunyian dengan Gili Meno, sekarang saatnya menikmati riuhnya pulau Bungin yang digadang-gadang pulau terpadat di dunia.

Jauh sebelum menginjakan kaki ke pulau ini saya pernah lihat di TV tentang Bungin ini. Hanya sepenggal yang saya dapat  tentang bagaimana pemuda disana melamar pujaan hatinya, adalah dengan mengumpulkan batu karang dan menumpuknya di pinggir pulau tersebut. untuk nantinya dibuat pondasi rumah. Tidak berlebihan memang kalu pulau ini disebut pulau terpadat di dunia. Bahkan kalau menurut saya pulau ini lebih cocok pulau bisul, makin lama makin membengkak.

menurut cerita, pulau ini dulunya adalah sebuah tumpukan pasir putih yang dijadikan tempat peristirahatan nelayan dari suku Bajo yang berasal dari Sulawesi. Kita tahu suku Bajo ini adalah suku yang memang hidupnya dilaut. dan mereka tersebar di beberapa kepulauan nusantara, termasuk yang ada di wilayah Sumbawa ini.

Sebelum sampai ke pulau Bungin, kami mampir di Pelabuhan Mapin karena memang untuk menuju ke Pulau Bungin harus melewati pelabuhan ini. Ada juga jalur lewat darat, cuman katanya medannya masih berat, kami disarankan untuk memakai jalur laut. Disamping itu juga kawan saya ini punya kenalan mantan kepala desa Mapin dan anaknya ikut dalam rombongan kami, Jadilah kami dijamu dengan ikan laut yang masih segar, terutama cumi (bukan cumi lebay) kesukaan saya.

Hari kedua di pelabuhan Mapin ternyata kami belum bisa berangkat karena sesuatu dan lain hal,  baru keesaokan harinya kami berangkat dengan menyewa kapal kecil, itu juga cuman untuk ganti bensin, karena yang punya mantan kepala desa tadi. Kalau ga salah perjalanan hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam, kamipun disambut salah seorang warga kampung yang sudah di kontak sebelumnya.

selagi kami beristirahat di rumah penduduk tadi, sekonyong-konyong ada segerombolan anak-anak kecil seperti sedang pawai, dengan suara yang lumayan berisik melewati kami , dengan penasaran salah satu dari kami  bertanya, Rupanya mereka baru menemukan benih pohon mangga yang baru tumbuh tunasnya. Disini memang tidak ada satupun pohon, jadi tidak heran mereka begitu antusias. Selain itu disini kambing makan kertas, kadang kain yang sedang di jemur, walaupun sudah dikasih tau sebelumnya tetap aja takjub ketika melihatnya langsung.

Hari itupun kami berkeliling melihat-lihat suasana kampung, tidak semua rumahnya berbentuk panggung seperti rumah nenek moyang suku bajo, ada juga yang sudah menggunakan rumah tembok. Ada sekelompok gadis lumayan manis2 dan centil, saya  pikir mereka ingin difoto, ternyata bukan, mereka mengira kami dari team Bedah Rumah seperti yang ada di tv..GUBBBRAK.,! Pantas aja mereka menunjuk-nunjuk rumah yang sudah rusak, Kadang-kadang memang tontonan tv membuat pola pikir masyarakat menjadi instan.

Malam harinya kami  diundang untuk melihat upacara prosesi penyembuhan ala suku Bajo, kalau di jawa mirip dengan ruwatan. Duata begitu nama dari upacara ini, yang didominasi oleh perempuan dengan tari-tarian. Seperti tari-tari tradisional pada umumnya saya lebih tertarik dengan filosopi yang terkandung di dalamnys, dengan bentuk dan sajian yang ada. Mulailah saya bertanya tanya bak seorang wartawan.

Duata yang berarti dewata, merupakan dewa dalam kepercayan suku Bajo yang turun dari langit dan menjelma menjadi manusia. Prosesi Duata adalah puncak dari upaya pengobatan tradisional suku Bajo untuk mengobati orang yang sakit keras atau sudah mentok tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan jenis lain, termasuk pengobatan medis.

Dalam kasus pengobatan yang kami lihat kali ini adalah seorang pemuda yang merasa dirinya berada dalam keadaan tidak beruntung, atau merasa segala yang telah dilakukannya belum membuahkan hasil, mungkin lebih ke spirit kali ya. Prosesi ini di lakukan dirumah panggung yang punya hajat, ruangan cukup sempit sekitar 5 X 6 m, disitu sudah terlihat sesajen, para penabuh musik, dukun seorang perempuan tua, si pesakitan dan satu orang penari.

Musikpun mulai berbunyi serba konstan, dari tabuhan kendang, suling, dan satu alat musik gamelan. Sementara dukun mulai merapal doa atau mantra (karena saya ga paham) si wanita mulai menari, beberapa saat kemudian ruangan semakin rame, tidak lama beberapa gadis mulai menyusul untuk menari. Waktu saya tanya ke orang sebelah, ternta gadis-gadis itu datang dengan sendirinya, Suara musiklah yang memanggil mereka, seperti tubuhnya terbius untuk datang ke sumber suara. Makin lama tariannya semakin menggila, bahkan ada yang kesurupan segala, ada yang marah- marah mlulu, ada yang nari tapi sambil nangis, ada juga yang senyam-senyum sendiri, yang ini saya suka, selain cantik nampaknya lirikan matanya mengarah ke arah kami geer dot com lah.

Katanya prosesi ini bisa sampai pagi dan bisa dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam, tergantung keadaan si pesakitan. Kalau dalam dua hari dia sudah dinyatakan sembuh oleh dukunnya maka prosesi itu sudah dianggap selesai, mengenai cara menilai sembuh atau tidaknya saya belum sempat bertanya-tanya, karena kawan saya sudah mengajak pulang, memang dia hanya mengambil dan merekam gambar prosesi itu, dan sudah dianggap selesai.

Dan kami kembali kerumah yang tadi kami tumpangi, sambil tak lupa pamitan untuk tidur. Setelah badan rebah sayapun berdoa semoga diberi kesembuhan yang tak berkesudahan, sambil berharap ketemu gadis penari tadi dalam mimpi..zzzzzzzz





0 komentar: