Baduy dalam Menanggapi Pemilu#1

02.18 Nurul Hayat 0 Comments


Baduy memang tak bisa lepas dari ingatan saya, padahal baru sekali berkunjung kesana, itupun dilakukan beberapa tahun yang lalu, bertepatan pemilu pertama secara langsung yang dimenangkan oleh SBY. Jadi tulisan ini mungkin tidak utuh, ingatanya terpenggal-penggal berserakan, pada akhirnya saya coba kumpulkan kembali dengan bantuan referensi penguat dari berbagai sumber.

Kawan saya seorang fotograper waktu itu mengajak kami; saya dan adiku untuk melihat bagaimana orang baduy ikut berpatisipasi dalam PEMILU yang sering disebut pesta rakyat, padahal yang ada gonto-gontokan, namanya pesta pastinya semua harus sama-sama senang tanpa saling tuding mana yang paling baik, kalau pesta demokrasi masih mendinglah. 

Kami berangkat memakai jalur darat (emang ada jalur lain?), dengan menggunanakan kereta ekonmi Tanah Abang tujuan Rangkasbitung, ini kali pertama saya naik kereta jurusan sana ternayata lebih parah dari kereta ekonomi yang menuju jawa, ayam dan segala macam binatang piaraan tumplek menjadi satu, sayang waktu jaman segitu kamera digital belum begitu populer dan Hp pun-belum ada yang smart, jadi ga bisa mengabadikan momen yang kalau sekarang dilihat lagi akan menjadi kenangan menarik. 

Sampai Rangkasbitung masih harus naik lagi angkutan elf, kebetulan pas kami nyampe mobilnya sedang nangkring,katanya sih ni angkutan agak susah sebenarnya, karena jarang. Bisa jadi kawan saya itu sudah tau betul jadwalnya. Seperti halnya angkutan di daerah terpencil lainya, angkutan kalau belum penuh berjejal belum mau berangkat, seakan rakus. untung saja angkutan yang kami tumpangi banyak peminatnya sehingga tidak lama berselang mobil sudah melaju dengan kecepatan standar.

Tiba di Terminal Ciboleger yang sekaligus merupakan pintu gerbang masuk ke area Baduy sekitar pukul 2 siang. Sementara kawan saya mencari info, sambil beristirahat kami cari minuman di warung dekat pintu gerbang. Rupanya warung ini sudah agak rame juga dengan orang baduy, baik yang lagi belanja maupun sekedar nonton tv. si pemilik warung lumayan cerdik, untuk menarik pelanggan dia memasang tv yang notabene bagi orang baduy khususnya baduy dalam itu tidak diperbolehkan. 

Tidak lama berselang kawan pun datang sambil menjelaskan rencana selanjutnya, kami sepakat  patungan untuk membeli semacam tiket masuk secara sukarela yang diserahkan ke 'jaro' sekalian lapor dan membeli bahan makanan untuk diserahkan kepada penduduk lokal dimana kita menginap nanti. oya waktu itu ada seorang pengunjung juga yang ingin bergabung dengan rombongan kami, jadilah kami  berempat. 

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki bersama tiga orang baduy dalam dan satu anak kecil. Ternyata menempuh perjalanan ini tidak seindah yang dibayangkan. naik turun bukit membuat nafas saya buka tutup-buka tutup, kalau melihat cara jalan orang baduy sebenarnya biasa aja gak terlalu cepat, bahkan bisa dibilang santai, namun gerakannya konstan. tidak terlihat untuk buru-buru seperti kami. telapak kaki mereka yang telanjang seakan-akan tangan kedua yang mencengkram setiap lekuk tanah.

Saya agak sedikit kecewa melihat disepanjang perjalanan banyak ditemukan sampah plastik, tapi sudahlah ini resiko jaman, mau ngomel juga percuma kalau tidak melakukan sesuatu. Lumbung padi yang  kami lihat di perjalan sedikit banyak mengobati kekecewaan tadi, bentuknya sih sederhana tapi karena jumlahnya banyak dan berdekatan menjadikannya istimewa, perlu diketahui juga bahwa lumbung ini terpisah dari kampung, jadi tidak satu rumah satu lumbung,  namun lumbung dikumpulkan menjadi satu.

Sejak awal berangkat dari pintu masuk kami sudah diberitahu kalau perjalanan kali ini tidak sampai perkampungan Baduy dalam, alias Cibeo, karena orang yang akan kita nunuti untuk bermalam sedang "bertugas" di ladang. Sebenarnya mereka tidak begitu suka dipanggil orang baduy, mereka selalu menyebut dirinya sebagai urang kanekes. Tapi nama baduy sudah begitu populer, menurut kabar yang memberi nama baduy adalah orang Belanda. Kata Baduwi berasal dari bahasa Arab yaitu sebuah suku yang suka berpindah-pindah alias nomaden, padahal urang Kanekes sendiri hidupnya berladang, tidak berpindah-pindah.



















0 komentar: